Langsung ke konten utama

Lesson I Learned From a Win

Saya mau bercerita sedikit tentang akhir masa SMA ku. Masa yang menjadi titik terbaik sepanjang hidup sampai saat ini. Masa dimana saya berhasil mencapai yang diinginkan bahkan melampaui jauh dari ekspektasi saya. For disclaimer, saya bersekolah di SMA berbasis boarding school. Perjalanan ini juga tidak jauh dari perjalanan spiritual saya, semoga bisa mendatangkan manfaat bagi siapa pun yang membaca nya dan pastinya untuk saya sendiri yang menulisnya. Akhir kelas 11 SMA, saya memutuskan untuk ikut daurah menghafal Qur’an selama 20 hari pertama bulan Ramadhan. Saya bersama dengan teman-temanku juga. Kami berani mengambil resiko dengan memutuskan untuk susulan ujian akhir semester. Guru-guru kami mengizinkan dengan satu syarat, kami harus menemui semua guru kelas kami satu per satu dan menandatangi surat izin ujian susulan kami. Hari itu, bertepatan dengan libur asrama. Orang tuaku sudah menunggu cukup lama, namun masih ada satu guru yang belum menandatangai surat izin ku. Teman-temank...

Lesson I Learned From a Win

Saya mau bercerita sedikit tentang akhir masa SMA ku. Masa yang menjadi titik terbaik sepanjang hidup sampai saat ini. Masa dimana saya berhasil mencapai yang diinginkan bahkan melampaui jauh dari ekspektasi saya. For disclaimer, saya bersekolah di SMA berbasis boarding school. Perjalanan ini juga tidak jauh dari perjalanan spiritual saya, semoga bisa mendatangkan manfaat bagi siapa pun yang membaca nya dan pastinya untuk saya sendiri yang menulisnya.

Akhir kelas 11 SMA, saya memutuskan untuk ikut daurah menghafal Qur’an selama 20 hari pertama bulan Ramadhan. Saya bersama dengan teman-temanku juga. Kami berani mengambil resiko dengan memutuskan untuk susulan ujian akhir semester. Guru-guru kami mengizinkan dengan satu syarat, kami harus menemui semua guru kelas kami satu per satu dan menandatangi surat izin ujian susulan kami. Hari itu, bertepatan dengan libur asrama. Orang tuaku sudah menunggu cukup lama, namun masih ada satu guru yang belum menandatangai surat izin ku. Teman-temanku yang lain yang juga akan ikut daurah memutuskan untuk pulang lebih awal karena diperbolehkan untuk tidak terisi maksimal tiga guru. Namun, saya dengan sabar masih menunggu satu guru ini yang katanya sedang keluar. Menit ke menit berganti jam ke jam saya menunggu, sang guru pun datang. Pastinya saya langsung meminta tanda tangan beliau dan setelahnya saya mengumpulkan surat izin saya dengan lengkap.

Beberapa hari sebelum berangkat menuju daurah di ibu kota. Ayah saya bertanya, sebenarnya apa niatmu untuk ikut ini? kamu begitu bersemangat untuk ikut ini dan kamu pun harus menanggung resiko dengan mengikuti ujian susulan, mana lagi ini adalah ujian akhir kelas 11. Saya menjawab, “ada lah”, saya tidak ingin memberi tahu, saya yakin In syaa Allah niat saya adalah niat yang lurus. Sampai saat ini, saya juga masih sering bertanya kepada diri sendiri, apa ya niat saya dulu waktu itu? Saya benar-benar lupa dan saya tidak berani mengira-ngira dan menuliskannya disini. Hanya perlu di highlight, bahwa niat saya lurus. Entah apalah maksud lurus saya saat itu.

So, the first lesson is mari meluruskan niat atau memperbaiki niat. Dalam hal ini, juga dibarengin dengan kesungguhan dan keyakinan dalam hati untuk mencapai hal baik tersebut.

Hari keberangkatan tiba, yang artinya hari pertama puasa di Bulan Ramadhan. Kakakku berangkat dari ibu kota jam 10 malam, tiba sebelum jam 3 pagi. Hanya istirahat sebentar, makan sahur, kemudian kembali ke ibu kota, dan mengantarku untuk daurah. Semua serba dikebut karena harus tiba jam 10 pagi untuk penyambutan peserta daurah. Selama perjalanan, the real rush hour. Kakakku pun harus segera tiba karena ada meeting jam 8 pagi. Di Tengah perjalanan, saya cukup sedih karena harus berpisah dengan orang tua selama 20 hari di Bulan Ramadhan. Selama di perjalanan, tetap berusaha menstabilkan hati dan pikiran bahwa saya sedang melakukan perjalanan menuju sesuatu yang memang sudah saya tekadkan, mencoba mengajak diri sendiri berbicara “Bersungguh-sungguh yaa menghafalnya nanti, banyak orang yang juga berkorban untuk membantumu”

So, the second lesson is setelah meluruskan niat, mari bertekad untuk mencapainya. Tau kan apa yang paling sulit? Ya, memulai. Niat dan tekad yang kuat akan sia-sia tanpa memulainya. So, mulailah. Ingatlah, antara tercapai dan tidak tercapainya suatu impian adalah memulai melakukannya. Jika tidak memulai, maka tidak akan tercapai. Jika memulai, maka Allah akan membukakan jalan untuk mencapainya.

The next lesson yang ingin saya bagi dari pengalaman ku ini adalah bahwa saya menjadi sangat belajar dari ayat dalam Al-Qur’an “Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS. Asy-Syura : 20).

Teman-temanku sekalian, siapapun yang kelak akan membaca tulisan ini. Saya bersaksi bahwa yang terjadi sekitar 5 tahun lalu itu, sampai sekarang masih membuat saya takjub dan masih bertanya-tanya, bagaimana keajaiban datang di akhir sekolahku?

Saya akan menyingkat ceritanya. Singkat cerita, setelah menjalankan daurah 20 hari dan kemudian kembali ke kota asal. Seperti persetuan sebelumnya, saya dan teman-teman yang ikut daurah harus mengikuti ujian susulan. Yaa selayaknya sebelumyna, saya tidak termasuk siswa yang pintar-pintar amat. Jadi yaa remedial adalah hal yang biasa untuk saya, tidak tau jawaban dari soal bukanlah sesuatu yang bisa menimbulkan kepanikan. Jadi yaa tidak ada perubahan yang signifikan pada saat itu.

Hari hari selanjutnya berlalu, dan tibalah di salah-satu momen penting yang juga banyak merubah hidupku. Rolling kamar. Kepala asrama membentuk asrama tahfidz pada saat itu, saya sangat antusias untuk bisa bergabung di asrama tersebut. Namun, sangat disayangkan karena kepala asrama tidak mengizinkanku karena sudah menginjak kelas 12 yang artinya harus lebih fokus untuk persiapan Ujian Nasional. Saya sangat kecewa dan sedih pada saat itu dan tanpa sadar menangis di depan kepala sarama. Allah menggerakkan hati sang kepala asrama, akhirnya saya bisa berbagung di asrama tahfidz. Yaa padahal maksud menangis saya bukan untuk dikasihani, hanya bentuk respon kesedihan saya.

Selama menjalankan kehidupan di asrama tahfidz, saya banyak menghabiskan waktu untuk memperlancar dan mengulangi hafalan saya. Karena saya ingat dengan pasti yang satu ini bahwa tujuan saya sangat ingin bergabung di sana, yaitu ingin menjaga hafalan saya terutama yang sudah saya hafalkan di tempat daurah. Hari-hari selanjutnya berlalu. Tidak tahu mengapa dengan banyaknya waktu saya menghafal membuat saya juga semakin semangat belajar pelajaran di kelas. Untuk pertama kalinya selama menempuh Pendidikan SMA, saya lulus ulangan harian mata pelajaran fisika yang artinya saya tidak perlu mengikuti remedial. Semuanya menjadi lebih baik. Ulangan matematika pun juga ikut saya mendapat nilai 100. Melampaui teman-temanku yang memang punya basic matematika yang kuat. Mungkinkah atau memang ini berkaitan dengan perkataan Ust. Adi Hidayat:

Jika ingin meningkatkan kecerdasan, maka tingkatkanlah ketaqwaan. Tinggalkan maksiat dan perbanyak ibadah.

Teman-temanku sekalian, saya hampir berada di akhir tulisan saya. Semoga yang membaca mendapatkan manfaat dari tulisan yang saya usahakan tulis dengan baik. Teman-teman sekalian, semenjak menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an dan senantiasa memperbaiki shalat, banyak sekali hal-hal yang saya dapatkan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan. Saya ingat sekali di pertengahan kelas 10, saya pernah bermimpi dan berkeinginan, saya ingin foto saya dipajang di asrama berdampingan dengan foto-foto kakak kelas yang mendapatkan juara olimpiade nasional. Hanya keinginan yang terlintas singkat, tidak ada tekad agar tercapai karena sepertinya juga mustahil. Namun apa yang terjadi? Allah mengabulkan keinginan saya tersebut. Memang tidak menjadi juara olimpiade, tapi yang pasti foto saya terpajang di sana. Sebagai DUTA ASRAMA 2019. Rasanya sangat menakjubkan.

And the last lesson. Di paragraf atas saya sudah sedikit menyinggung bahwa yang sulit adalah memulai. Ya, memulai. Dan terkadang yang membuat “memulai” itu sulit adalah ekspektasi kita yang begitu besar. Tidak salah dengan ekspektasi. Tidak ada yang menyalahkan itu. Tapi, satu hal yang saya pelajari adalah bahwa sesuaikan ekspektasi dengan realita, sesuaikan dengan kondisi kita. Percayalah, dengan cara tersebut justru bisa menjadi salah-satu jalan kita bisa melampaui jauh dari ekspektasi tersebut.

Saya belajar hal tersebut dari pencapaian akhir saya di Pendidikan SMA. Teman-teman, saya adalah salah-satu siswa yang tergabung di ekstrakulikuler kimia di sekolah. Its mean, semestinya saya bisa jauh lebih baik Pelajaran kimia di kelas, right? Namun pada kenyataannya, saya pun juga sering remedial. Malu? Tentu. Namun, saya tetap memilih untuk menjalaninya. Selanjutnya, menjelang Ujian Nasional, tentunya saya menjadi cukup panik karena pengetahuan kimia ku sangat rendah. Saya kemudian menargetkan satu hal ada saat itu, “setidaknya nilai ujian nasionalku bukan 0”. Ekspektasiku sangat rendah bukan? Beberapa mungkin mengatakan, ayolah.. jangan terlalu rendah diri. Tapi, tidak, bukan seperti itu, saya menyadari diriku pada saat itu. Saya menyadari sudah tertinggal banyak hal dari teman-temanku, sehingga saya menargetkan yang pasti-pasti saja. Tapi? Akhirnya bagaimana? Alhamdulillah justru saya mendapatkan nilai tertinggi, melampaui teman-temanku yang sering ikut olimpiade. Saya tidak tau apakah ini berkaitan dengan salah-satu teori psikologis manusia atau bagaimana. Tapi, sampai saat ini, hal tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang berekspektasi sesuai dengan realita dan sesuai dengan kondisiku. Dengan carai tu, justru kita menyadari bahwa kita masih banyak kurang, banyak yang perlu dipelajari, dan memacu semangat kita untuk terus berlatih dan melalukan perbaikan.

Tapi satu hal yang sangat perlu di highlight. Ekspektasi yang menyesuaikan realita dan kondisi bukan berarti kita harus bermalas-malasan. Bukan berarti, yasudah targetku kan yang penting tidak dapat 0, berarti dapat 20 juga tidak masalah. Bukan itu poinnya. Poinnya adalah dari menyesuaikan ekspektasi dan realita, kita jadi tau dan sadar bahwa kita masih banyak butuh belajar dan melakukan perbaikan. Maksud selanjutnya apa? Yaitu, kita harus berusaha lebih dibandingkan orang lain, bekerja lebih keras dibanding orang lain, dan kalau perlu jam tidur kita lebih sedikit dari orang lain.

Dari perjalananku selama 1 tahun lebih tersebutlah, di acara perpisahan sekolah, dengan penuh takjub, saya diberi kesempatan untuk mendapatkan penghargaan sebagai The Most Inspiring Student.

Perjalananku tidak mudah. Sangat mudah memang jika hanya membaca melalui tulisan ini. Banyak hal yang saya korbankan pada saat itu yang tidak saya tulis semua di tulisan ini. Mari terus berproses. Saya pun sedang berproses sekarang. Proses yang sedang saya jalani lah yang membuat saya akhirnya menuliskan tulisan ini. Percayalah, proses-proses kita lah yang akan memberi warna dalam hidup. Yang memberi kita semangat untuk menuliskan dan mengabadikannya di kemudian hari. Jika kita berusaha dan berproses in syaa Allah akan ada hasil baik dari Allah. Satu hal lagi, bahwa setelah bekerja keras, setelah melakukan usaha terbaik, serahkan semuanya kepada Allah. Sekali-kali jangan beranggapan bahwa “saya sudah melakukan ini lebih baik, saya sudah mengerahkan semua tenaga saya, maka pasti saya akan mendapatkan yang terbaik, yang paling baik”. Ingat! Setelah berusaha dan memaksimalkan usaha, serahkan semuanya kepada Allah. Saya katakan lagi, percayalah, dengan cara itu hati menjadi tenang. Pada saat itu, saya mengatakan “I Win”

Komentar